Berkata Kepada Benjamin Netanyahu, “Suara Dengarkanlah Aku”

Jakarta 15/6/2009 (KATAKAMI) Pekan lalu, saat kami memuat tulisan “Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan” yang merespon janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan berkomitmen tinggi mewujudkan perdamaian dan keamanan, kami mendapatkan begitu banyak respon yang positif dan semua bermuara pada satu hal yaitu agar Benjamin Netanyahu dan Israel sungguh membuka hati dalam merealisasikan “janji atau komitmen” mewujudkan perdamaian dan keamanan itu, dalam konteks dengan Palestina.

Salah respon yang kami terima adalah dari anggota Komisi I DPR-RI Jeffrey Massey dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, yang sunggu berkeyakinan bahwa Benjamin Netanyahu akan menepati janji itu. Namun, seraya berharap juga agar HAMAS tidak terus menerus melakukan provokasi yang bisa membuyarkan upaya dan kesungguhan hati semua pihak untuk merealisasikan perdamaian dan keamanan tersebut.

Berhari-hari menunggu seperti apa sebenarnya visi dan misi Benjamin Netanyahu tentang “potret perdamaian dan keamanan” yang akan dengan kesungguhan hati diwujudkannya disaat ia memangku sebuah jabatan yang sangat prestisius di Israel, akhirnya rasa penasaran itu terjawab.

Minggu 14 Juni 2009 (waktu setempat). Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di “Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University, Israel”.

Salah satu bagian dari pidato itu berbunyi sebagai berikut, :In my vision of peace, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government”.

Kemudian di bagian penutup pidato itu berbunyi, “I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more. With God’s help, we will know no more war. We will know peace”.

Bendera Israel & Palestina

Ya betul, dengan pertolongan Tuhan — tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan — seharusnya memang tak perlu lagi ada PEPERANGAN !

Bahkan Tuhan sendiripun, dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, pastilah sudah sangat lama menunggu agar umat kesayangan-Nya sungguh mau terdorong, tergerak dan bertindak secara nyata untuk mewujudkan PERDAMAIAN & KEAMANAN itu.

Indahnya kata-kata dalam pidato Benjamin Netanyahu di pertengahan bulan Juni ini, semakin menguatkan secercah harapan yang ada di hati rakyat Palestina dan Israel. Dan sulit untuk tidak mempercayai figur Benjamin Netanyahu, sebab pastilah ia bukan tipikal yang asal ngecap, asal bunyi, asal ngember, dan asal “TEBAR PESONA” untuk mempertontonkan retorika-retorika yang mendunia.

Benjamin Netanyahu tentu tahu konsenkuensi dari sebuah JANJI yang disampaikan dari mulut seorang pemimpin yaitu janji itu haruslah ditepati secepatnya secara baik dan benar. Mengikis semua permusuhan dan peperangan yang gendang kebenciannya sudah menelan begitu banyak korban nyawa, harta, benda dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa korban terbesar dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah anak-anak dan perempuan.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa kepedihan dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah berterbangannya nyawa secara sia-sia tanpa ada yang bisa menyatakan dirinya sebagai pemenang yang berhak meraih dan mengangkat piala arogansi yang berkilauan.

Sebab, piala dari peperangan itu tak akan pernah mengeluarkan kilauan yang indah dan memukau semua mata yang memandang. Sebab, piala dalam medan pertempuan adalah piala yang berlumuran darah dan airmata.

Setiap pemimpin dunia di muka bumi ini, terutama yang terkait dalam upaya mendamaikan Israel dan Palestina — termasuk yang secara gigih mendorong berdirinya negara PALESTINA yang merdeka — pasti dengan mudah menyuarakan pidato-pidato yang indah, yaitu pidato yang penuh dengan kata-kata yang berbumbu, bersayap dan berasesori sangat padat.

Sehingga kadang-kadang, orang yang mendengarkan saja sudah kebingungan. Apakah harus mengagumi dan mempercayai pidato itu, atau malah mengutuk dan tidak mempercayai semua rangkaian kata yang seakan-akan sungguh tak bermakna karena terkesn OMDO alias OMONG DOANG.

Tapi semoga, apa yang dipidatokan oleh Benjamin Netanyahu, bukanlah bagian dari pidato yang penuh retorika dan omong kosong berkepanjangan.

Atmosfir kekerasan yang menyelimuti langit di atas Israel dan Palestina, sudah tak bisa menunggu terlalu lama. Sudah tak mungkin dipaksa untuk diam tak bergeming untuk mendengarkan lebih banyak lagi pidato demi pidato dari seluruh pemimpin dunia yang hobi atau kemampuannya cuma berpidato saja dari kejauhan untuk mendorong Israel dan Palestina berdamai.

Apa arti dari seruan-seruan jarak jauh, jika ternyata pada prakteknya di lapangan dentuman bom dan rentetan tembakan masih merajalela di garis terdepan peperangan itu sendiri ?

Itulah sebabnya, meminjam sebuah judul lagu yang sedang “naik daun” di Indonesia ini, ingin rasanya menyampaikan sebuah harapan yang lebih kuat kepada Benjamin Netanyahu & Israel :

“SUARA, DENGARKANLAH AKU … !”

Dengarkanlah aku, dan semua warga dunia yang ingin agar peperangan itu benar-benar dihentikan. Kasihani kami dan semua rakyat disana (di Israel dan Palestina) yang mendambakan agar mubazirnya nyawa yang berterbangan selama ini dalam nafas peperangan yang brutal, segera dihentikan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang ingin agar kehidupan di Israel dan Palestina sungguh berjalan dengan sangat apa adanya yaitu kehidupan yang aman, nyaman, tenteram dan tidak dengan mudah membunuhi siapa saja yang dianggap sebagai lawan atau musuh bebuyutan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang sangat tersayat hatinya bila mendengar atau melihat tayangan-tayangan gambar pada pemberitaan media massa, begitu banyak anak-anak, perempuan, kaum lansia dan rakyat kecil yang tak berdaya menjadi korban keganasan amunisi-amunisi arogansi antar pihak yang bertikai dalam semua lini peperangan di muka bumi ini — khususnya di Israel dan Palestina –.

“Suara, DENGARKANLAH AKU !”

Memang hanya bagian judul yang kami pinjam untuk mewakili kuatnya harapan tentang mendesaknya perdamaian dan keamanan di kawasan Israel dan Palestina.

Tapi bila peperangan itu sungguh diakhiri, tak mustahil lagu yang sangat indah berjudul “SUARA, DENGARKANLAH AKU !” ini bisa dinyanyikan dengan hati yang sangat hidup dan penuh damai oleh siapapun yang ingin saling mencintai dan menjalin tali kasih antar 2 anak manusia yang ada di Israel dan Palestina bila nanti peperangan itu benar-benar diakhiri.

Saling mencintai dalam alam perdamaian yang sesungguhnya dan kesejatian.

Benjamin Netanyahu, DENGARKANLAH AKU, tepati janjimu hai kesatria sejati ! Dan lakukan segala sesuatu yang baik (demi kemanusiaan), untuk KEMULIAAN ALLAH.

Ad Majorem Dei Gloriam.

(ms)

L A M P I R A N :

Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan

DIMUAT JUGA DI www.KATAKAMINEWS.WORDPRESS.COM & www.THEBLOGOFKATAKAMI.WORDPRESS.COM

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi

Jakarta 8/6/2009 (KATAKAMI) Pekan ini, rencananya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidato kebijakannya yang akan mencakup masalah perdamaian dan keamanan. Hal itu disampaikannya dalam rapat kabinet di negaranya hari Minggu (7/6/2009) kemarin. Netanyahu menegaskan misi penting kabinetnya untuk meraih perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab.

Atau, tepatnya yang diucapkan oleh Perdana Menteri Netanyahu adalah :

“We want to achieve peace with the Palestinians and with the countries of the Arab world, while attempting to reach maximum understanding with the US and our friends around the world. My aspiration is to achieve a stable peace that rests on a solid foundation of security for the State of Israel and its citizens. Next week, I will make a major diplomatic speech in which I will present the citizens of Israel with our principles for achieving peace and security. Ahead of the speech, I intend to listen to the opinions of the coalition partners and other elements among the Israeli public.”

Sinyalemen dari bapak 3 anak ini, cukup positif dan tentu dinantikan oleh semua pihak.
Tentu saja ini dinantikan karena kebijakan yang akan dijabarkan oleh kabinet baru yang dipimpim Netanyahu ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.

Kabinet yang dilantik pada 31 Maret 2009 ini, diharapkan oleh semua pihak untuk bisa menjadi motor penggerak yang akan membawa Israel dan Palestina bisa secara nyata bertetangga dengan baik. Walaupun sebenarnya, praktek di lapangan akan sangat sulit.

Berbicara mengenai mengenai Palestina, maka semua pihak harus mengakui bahwa ada “unsur” HAMAS yang sangat radikal didalamnya.

Dan sepanjang tingkat radikalisme HAMAS tak bisa dikendalikan atau mengendalikan diri maka kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat positif oleh Israel dan Palestina, akan menjadi sia-sia. Jangan ada lagi provokasi yang disengaja untuk memancing kemarahan atau memicu peperangan. Jangan ada lagi provokasi tak bersahabat lewat dentuman ratusan mortir HAMAS yang menari-nari dalam menggempur ISRAEL di malam Natal, malam sakral yang sangat dihormati oleh Umat Kristiani diseluruh dunia. Akibatnya, pecahlah peperangan sengit yang sangat memedihkan hati semua bangsa didunia ini periode akhir tahun 2008 sampai memasuki minggu-minggu pertama di awal tahun 2009 lalu.

Dan kini, pernyataan dan pengakuan dari Netanyahu bahwa pihaknya siap untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab, adalah poin penting yang harus digaris-bawahi oleh semua pihak. Artinya, dengan menggaris-bawahi itikat baik dari Israel menjalin dan mewujudkan perdamaian tadi, perlu didukung.

Dukungan internasional terhadap “ROAD MAP” atau “PETA JALAN” menuju perdamaian tadi, jangan diimplementasikan lewat tutur kata, perbuatan atau kebijakan yang terkesan menggurui dan memaksa Israel agar sepenuhnya berada dibawah kendali pihak lain diluar kedua belah pihak yang “head to head” berhadap-hadapan di lapangan yaitu Israel dan Palestina.

Bayangkan jika sebuah negara, terlukai martabatnya hanya karena terkesan digurui atau dikendalikan.

Percayakanlah saja bahwa sepenuhnya pernyataan dan pengakuan Kabinet Netanyahu memang akan diwujudkan sebagaimana mestinya.

Netanyahu, berlatar-belakang militer.

Jika membaca rekam jejak perjalanan kariernya, tahun 1967-1972 Netanyahu bergabung menjadi PASUKAN KOMANDO KHUSUS / PASUKAN ELITE ISRAEL (semacam Pasukan Kopassus kalau di Indonesia). Bahkan ia ikut dalam operasi khusus yang membanggakan seperti operasi penyelamatan terhadap pembajakan pesawat Sabena tahun 1972.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit sejati yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah misi khusus yang sangat penting, akan tetap terpatri sampai kapanpun dalam diri Netanyahu.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit yang dilatih dengan kemampuan khusus yang sangat tinggi dan hebat, tetap diharuskan menghormati dan mengedepankan keselamatan perempuan dan anak-anak.

Disini, Netanyahu tentu menyadari di kedalaman hatinya bahwa jika pertempuran dan perseteruan yang berkepanjangan, berlarut-larut dan tak pernah berkesudahan sepanjang masa, sudah dapat dipastikan hanya akan memperbanyak jumlah korban di pihak sipil yang didalamnya terdapat begitu banyak anak-anak dan perempuan dari kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Tolong, jangan lagi ada peperangan yang sangat berkepanjangan. Dengarkan jerit tangis anak-anak dan perempuan yang menjadi sangat tersiksa dan tercekam dalam api peperangan yang sangat mengerikan. Jangankan untuk mendapatkan mimpi indah dalam tidur di siang atau malam hari, bahkan untuk tidur pun sudah tak ada yang berani jika api peperangan itu berkobar tanpa henti.

Dalam kehidupan di muka bumi ini, semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat indah yang mengatakan bahwa “Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu”.

Itu menandakan bahwa kaum perempuan, adalah sentral dari misi perdamaian yang perlu dicapai oleh negara manapun yang berlomba memuntahkan amunisi-amunisi peperangan yang mematikan.

Tetapi, didalam injil juga disebutkan hal lain yang berkaitan dengan surga yaitu anak-anak kecil adalah pihak yang paling diutamakan oleh Surga.

Ini bukan dimaksudkan bahwa setiap pertempuran atau peperangan di belahan manapun didunia ini, sangat sah dan dapat ditolerir jika menembaki pihak musuhnya tetapi ribuan anumisi atau ledakan-ledakan mortir mematikan itu justru menewaskan anak-anak kecil (bahkan bayi).

Pemahamannya justru harus dibalik bahwa dalam kehidupan secara universal, keselamatan anak-anak harus diutamakan dan dikedepankan.

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun juga di Israel dan Palestina, cobalah hitung berapa perempuan dan anak-anak yang sudah bertumbangan dan berterbangan nyawanya karena gempuran sengit kalangan bersenjata.

Pidato kebijakan yang akan disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi secercah harapan baru tentang akan terwujudnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

Kesatria sejati tidak akan pernah menarik ucapannya, jika ucapan itu telah dikumandangkan secara resmi dan terbuka.

Kesatria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika nafas utama dari janji itu adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Kesatria sejati tidak akan pernah “lagi” menutup mata hati dan mata imannya terhadap perlunya melindungi dan tetap membiarkan anak-anak dan perempuan pada umumnya di kawasan Israel dan Palestina dapat hidup dengan tenteram dan damai (bukan justru hidup dalam belenggu peperangan yang jika salah melangkah sedikit saja, bisa berakibat fatal yaitu tewas tertembus peluru dari dua kubu yang tak henti berperang).

Dan kami sungguh mempercayai bahwa seorang Benjamin Netanyahu adalah kesatria sejati dan prajurit “Komando” yang akan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapannya.

Semua pihak tentu menunggu dengan penuh harapan bahwa perdamaian dan keamanan yang sejati itu, bukan sekedar isapan jempol atau angan-angan yang mustahil menjadi kenyataan.

Sepanjang Israel memang satu suara dan satu antara perkataan serta perbuatannya, maka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan itu tak diperlukan banyak campur tangan dari pihak manapun.

Didalam injilpun disebutkan, apa sebenarnya dan bagaimana sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari setiap negara atau setiap bangsa di muka bumi ini,

“Sungguh, Alangkah Baiknya & Indahnya, Apabila Saudara-Saudara Diam (Hidup) Bersama Dengan Rukun (Damai)” (Mazmur 133).

Sehingga, dengan segala daya nalar dan logika dari akal sehat yang tetap dimiliki oleh semua anak manusia di muka bumi ini, “janji” untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan yang sejati itu dinantikan dari Benjamin Netanyahu.

Just do it and please go for it, Sir !

Prajurit dari PASUKAN ELITE yang sejati, tak akan pernah mengingkari nilai paling hakiki yang ditanamkan dalam jiwa dan raganya bahwa apa yang terbaik baik “rakyat” secara keseluruhan, maka itulah yang terbaik untuk dilakukan.

KOMANDO !!!

(MS)